FKG UNHAS News Dekan FKG Unhas Dikukuhkan jadi Guru Besar Bidang Ilmu Bedah Mulut dan Maksilofasial

Dekan FKG Unhas Dikukuhkan jadi Guru Besar Bidang Ilmu Bedah Mulut dan Maksilofasial

Dekan FKG Unhas Dikukuhkan jadi Guru Besar Bidang Ilmu Bedah Mulut dan Maksilofasial post thumbnail image

Universitas Hasanuddin kembali menyelenggarakan Rapat Paripurna Senat Akademik terbatas dalam rangka upacara Penerimaan Jabatan Profesor Bidang Ilmu Bedah Mulut dan Maksilofasial pada Fakultas Kedokteran Gigi. Kegiatan dimulai pukul 09.00 WITA secara luring terbatas di Ruang Senat Akademik Unhas, Lantai 2 Gedung Rektorat, Kampus Tamalanrea, Makassar, Rabu (23/02).

Proses pengukuhan dihadiri oleh Rektor Unhas, Prof. Dr. Dwia Aries Tina Pulubuhu, MA., Ketua, Sekretaris, dan Anggota Senat Akademik, Dewan Profesor, tamu undangan, serta keluarga besar dari profesor yang dikukuhkan.

Dosen yang dikukuhkan sebagai guru besar yakni Prof. Muhammad Ruslin, drg., M.Kes., Ph.D., Sp.BM (K). Beliau merupakan guru besar dengan nomor keanggotaan 443. Lahir di Pangkajene, 2 Juli 1973. Saat ini menjabat sebagai Dekan Fakultas Kedokteran Gigi Unhas.

Dalam sambutannya, Rektor Unhas, mengatakan bahwa sebagai perguruan tinggi yang unggul di Indonesia, Unhas selalu berkomitmen untuk meningkatkan jumlah capaian guru besar. Proses ini menjadi bagian dari kinerja universitas yang semakin meningkat dari tahun ke tahun.

“Kita berharap banyak guru besar yang dikukuhkan setiap tahunnya, khususnya di usia yang masih muda. Dengan begitu kita sangat berupaya memenuhi harapan bangsa untuk terus menambah guru besar dengan cepat,” kata Prof. Dwia.

Lebih lanjut, Prof. Dwia menuturkan bahwa kini Unhas telah memiliki lebih dari 300 guru besar dan menjadi yang terbanyak di Indonesia. Sehingga menjadi tantangan bagi Unhas untuk terus menyelaraskan jumlah guru besar sebagai pelopor bidang keilmuannya dengan berbagai karya inovasi yang dihasilkan.

Prof. Ruslin menyampaikan pidato penerimaan jabatan guru besar berjudul “Bedah Mulut dan Maksilofasial: Menjembatani Kesenjangan antara Ilmu Dasar dan Praktik Klinis”. Dalam pidatonya, Prof. Ruslin menjelaskan bahwa topik ini merupakan cerminan perjalanan hidupnya sebagai seorang akademisi sekaligus praktisi yang menggeluti bidang bedah mulut dan maksilofasial sejak tahun 2002.

Prof. Ruslin menjelaskan kontribusi riset kedokteran gigi khususnya di bidang mulut dan maksilofasial dalam membangun kesehatan manusia berasal dari dua aspek, yakni ilmu dasar dan ilmu praktik klinis.

Ilmu dasar adalah yang menciptakan pengetahuan sebagai dasar pengembangan teknologi diagnostik, pencegahan, dan pengobatan penyakit. Sedangkan ilmu praktik klinis adalah ilmu yang mengevaluasi dan memanfaatkan pengetahuan dari ilmu dasar. Hal ini kemungkinan besar disebabkan karena relevansi dan signifikan ilmu dasar untuk kedokteran gigi klinis kurang dipahami oleh para praktisi.

“Seorang dokter gigi profesional memiliki tanggung jawab yang besar dalam memberikan perawatan yang berkualitas, berbasis bukti, dan berorientasi pada pasien. Terwujudnya hal ini berbanding lurus dengan kualitas pendidikan di area klinis yang semestinya tetap mengikuti perkembangan teori kesehatan,” jelas Prof. Ruslin.

Penelitian yang dilakukan berfokus pada ilmu dasar dan efisiensi klinis, yang diterapkan pada berbagai kasus, antara lain trauma, kelainan kongenital, kasus disganti, bedah rekonstruksi, neoplasma-kista, implan gigi, cangkok tulang (bone graft), dan rekayasa jaringan (tissue engineering).

“Kualitas hidup seseorang dapat terganggu jika memiliki gangguan pada tulang rahang dan wajah, baik fungsional maupun estetik. Mencegah cedera maksilofasial adalah usaha utama yang dapat dilalukan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien dan mengurangi biaya perawatan dengan modalitas pencegahan bervariasi sesuai dengan usia dan penyebab cedera,” jelas Prof. Ruslin.

Lebih lanjut, Prof. Ruslin menambahkan bahwa sebagai pusat pelayanan kesehatan gigi dan mulut, Rumah Sakit Gigi Mulut Pendidikan (RSGMP) dan Rumah Sakit Pendidikan Unhas telah dilengkapi dengan ketersediaan sarana dan prasarana, sumber daya manusia, serta kerja sama lembaga untuk kegiatan amal.

Melalui fasilitas tersebut, sebagai pemberian tindakan pencegahan dan perawatan kasus-kasus bedah dan mulut dan maksilofasial seperti fraktur rahang dan wajah, pembedahan ortognatik, celah bibir dan lelangit dapat dilakukan dengan maksimal.

Kegiatan Rapat Paripurna Senat Akademik dalam rangka Upacara Penerimaan Jabatan Professor pada Fakultas Kedokteran berlangsung lancar dan hikmat hingga pukul 11.00 WITA.