FKG UNHAS News Dekan FKG Unhas Jadi Pembicara pada Pertemuan Dokter Gigi Asia Pasifik

Dekan FKG Unhas Jadi Pembicara pada Pertemuan Dokter Gigi Asia Pasifik

Dekan FKG Unhas Jadi Pembicara pada Pertemuan Dokter Gigi Asia Pasifik post thumbnail image

Dekan FKG Unhas Prof. Muhammad Ruslin, drg., M.Kes., Ph.D., Sp.BM (K) Hadir sebagai Pembicara pada The 53rd APAN (Asia Pacific Advanced Network) Dental Telemedicine Event dengan tema “Surgeon and Orthodontist Perspective in Advances and Trends in Orthognathic Treatment”.

Kegiatan berlangsung mulai pukul 11.00 Wita secara virtual melalui aplikasi zoom meeting, Rabu (9/3).

Asia Pacific Advanced Network (APAN) merupakan inisiatif dari Kyushu, Jepang, yang bekerjasama dengan beberapa universitas di Indonesia dalam gelaran acara tahunan dental telemedicine.

Pada sesi kali ini APAN bekerjasama dengan Universitas Hasanuddin, Universitas Indonesia, Universitas Airlangga, dan Universitas Brawijaya menggelar webinar yang menghadirkan narasumber, yakni:

1. Prof. Muhammad Ruslin, drg., M.Kes., Ph.D., Sp. BM (K), yang membahas topik: “Surgical Orthodontic: Basic Treatment and Experience in Our Institution”.

2. Dr. Sariesendy, drg., Sp.Ort (K), membahas topik: “Treatment of adult patients with skeletal class III malocclusion”.

3. Andra Rizqiawan, drg., Sp.BM(K), PhD, FICS., membahas topik: “Surgery-First Approach (SFA) VS Orthodontic-First Approach (OFA) in Class III Skeletal Malocclusion: Narrative Review”.

Dalam pemaparannya, Prof. Ruslin menjelaskan tentang perawatan dasar bedah ortodontik sebagai bidang spesialis pada perawatan struktur gigi yang tidak rapi. Tujuannya adalah mengembalikan fungsi gigi dan estetis wajah manusia menjadi lebih baik.

“Deformitas dentofasial digambarkan sebagai jenis deformitas yang terutama mempengaruhi rahang dan gigi geligi, yang diakibatkan oleh pola pertumbuhan tidak merata antara mandibula dan rahang atas,” jelas Prof. Ruslin.

Lebih lanjut, Prof. Ruslin menjelaskan studi tentang deformitas dentofasial yang merupakan kondisi pada gigi dan rahang yang mempengaruhi bentuk wajah. Kondisi tersebut dilakukan dengan pemeriksaan klinis dalam tiga analisis berurutan yang berbeda, yakni: (1) Analisis wajah klinis langsung dan fotografis, (2) Analisis gips intraoral dan gigi (melihat hubungan intra lengkung dan hubungan antar-lengkungan, dan (3) Analisis sefalometri.

Prof. Ruslin kemudian menjelaskan tentang prosedur Sagital Split Ostectomy (SSO) dalam melakukan penanganan gigi untuk menempatkan pada posisi yang direncanakan menggunakan alat bedah.

Setiap segmen kondilus difiksasi secara fleksibel dengan pemasangan pelat mini titanium yang diaplikasikan secara intra oral pada setiap sisi menggunakan empat sekrup titanium monokortikal dan dipertahankan dengan karet elastis dalam jangka waktu yang ditentukan.

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan pemaparan materi oleh kedua narasumber lainnya dan berlanjut pada sesi tanya jawab yang diikuti oleh kurang lebih 300 peserta dan dipandu oleh Yossy Yoanita Ariestiana, drg., Sp.BM (K) (Staf Dosen Departemen Bedah Mulut dan Maksilofasial FKG Unhas) sebagai moderator.